Ketika Kesuksesan Tak Kunjung Datang

Kesuksesan membutuhkan sebuah proses. Dan proses menuju sukses harus diiringi dengan kerja keras. Sulit ditemukan orang-orang sukses yang pada awalnya hanya bermalas-malasan. Kesuksesan tidak akan datang dalam waktu semalam. Semua impian sukses harus ditebus dengan perjuangan keras yang dibarengi doa. Untuk mencapai kesuksesan hidup yang hakiki, baik kekayaan materi maupun spiritual, harus diperhatikan empat dimensi utama pilar kesuksesan, yaitu DUIT ( Doa, Usaha, Iman, dan Tawakal ).

menyerah hanya untuk orang lemah

“Saya sudah shalat Tahajud setiap malam, shalat Dhuha setiap pagi dan berdoa panjang lebar, tetapi mengapa saya tidak pernah menjadi orang yang sukses?” Barangkali celetukan nakal seperti ini akan sering kita dengar di tengah masyarakat. Lantas, bagaimana menjawabnya?

Jawabnya, jika akhirat yang Anda jadikan sebagai ukuran kesuksesan, sebetulnya saat ini Anda telah berproses menuju kesuksesan hakiki-sebagaimana telah kita bincangkan pada halaman terdahulu dalam sub -pemnbahasan Standar Kesuksesan dan Kegagalan-, selama Anda mendirikannya secara istiqamah dan Zillah (semata karena Allah). Tetapi, jika dunia yang Anda jadikan ukuran kesuksesan maka ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan Anda tidak pernah menjadi “sukses”.

Pertama, mungkin kualitas shalat Anda yang memang belum sempurna. Anda, cenderung mengira bahwa shalat yang Anda lakukan sudah benar dan sempurna, padahal perkiraan itu keliru. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya pelaku ibadah itu mengira mereka telah menegakkan shalat (seutuhnya), padahal tidaklah tertulis baginya kecuali setengah shalat, atau sepertiganya, atau seperempatnya, atau seperlimanya, sampai sepersepuluhnya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Untuk itu, mari kita koreksi kualitas shalat masing-masing! Jangan-jangan ibadah kita masih berparadigma “STMJ” (Shalat Terus, Maksiat Jalan). Nah, jika ini yang terjadi, agar semakin dekat dengan Tuhan maka kualitas “S” harus dilejitkan dan intensitas “M” harus diminimalkan hingga mencapai titik yang paling rendah.

 

Kedua, kemungkinan lainnya adalah Anda terlalu keliru memaknai konsep qana’ah dan tawakal, sebagai sebuah kepasrahan terhadap nasib tanpa pernah berusaha sedikit pun untuk mengubahnya menjadi kesuksesan. Misalnya, selesai shalat Tahajud dan merapalkan dzikir panjang hingga menghabiskan seluruh malam, pagi harinya Anda habiskan untuk shalat Dhuha

seharian tanpa bangkit untuk bekerja dan berusaha menjemput karunia Allah swt. Jika ini yang terjadi, berarti Anda lebih berbakat menjadi tukang khayal yang suka mengkhayalkan Allah turun ke tempat sujud Anda dengan membawa sekoper uang. Tentu Anda tidak terima disebut pengkhayal, bukan? Karena itu, bekerjalah dengan giat karena Allah akan menurunkan karunia-Nya melalui pekerjaan Anda itu!

jangan putus asa

Ketiga, barangkali memang tidak ada yang salah dengan shalat Anda. Anda telah mendirikannya secara istiqamah, khusyuk, dan ikhlas. Tak hanya ritual fisik, namun juga terejawantahkan dalam energi rohani Anda. “Tetapi, mengapa ‘kesuksesan’ tidak pula kunjung tiba? Saya tetap saja miskin, tak berkedudukan, dan terus saja berada dalam strata sosial terendah di masyarakat. Mengapa begini?” Jangan mengeluh dan keburu marah! Jangan pula putus asa!

Pada hakikatnya, “ketidaksuksesan” kita di dunia kemungkinan besar merupakan bentuk kasih sayang Allah untuk membuat kita lebih sukses di negeri keabadian, yaitu akhirat. Allah tentu Maha tahu. Dia mengetahui segala yang tampak dan yang tersembunyi; yang sudah lalu, sekarang, atau yang akan datang. Allah Maha Mengetahui semuanya. Jika “kesuksesan” di dunia tidak kita raih maka berbaiksangkalah kepada Allah, bahwa Dia tentu memiliki kehendak yang lebih baik dari sekadar “kesuksesan” semu di dunia.

Misalnya, ketika Allah swt membuat kita miskin harta, pada dasarnya Dia tahu jika seluruh kekayaan dilimpahkan kepada kita, mungkin bukan ketaatan yang kita tingkatkan, tetapi justru kita durhaka kepada-Nya dan lebih menuruti bisikan syaitan. Mungkin kita memang menjadi hartawan di dunia, tetapi di akhirat kelak tidak menutup kemungkinan akan menjadi makhluk paling miskin dan jauh dari kasih-Nya, Karena, semasa kaya kita lupa beribadah kepada-Nya lupa bersedekah, dan lebih banyak melakukan maksiat.

Tengoklah kisah Qarun yang dijadikan kaya oleh Allah Ta’ala, tetapi kemudian binasa dan terlempar ke neraka karena kekayaannya justru semakin menjauhkannya dari Allah swt. Allah swt berfirman, ‘Jika ia kaya ataupun miskin maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.” (Q.S. An-Nisa’ [4]: 135)

Rahasia seperti inilah yang tidak pernah kita ketahui. Karena, kita cenderung menggunakan standar materi ketika membicarakan kesuksesan. Karenanya, tidak mengherankan jika kemudian kita semakin dibuat buta dan tidak mampu melihat rahasia rahmat Allah ini. Mari kita renungkan baik-baik!

rezeki

Referensi :

Al-Qur’an Al-Karim
Tahajud & Dhuha

http://www.google.co.id

http://www.eramuslim.com