Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dalam kamus bahasa Arab, dhuha diartikan sebagai forenoon (pagi hari atau sebelum tengah hari), dan diartikan pula sebagai become appear/visible (menjadi tampak atau terlihat). Ustadz Zezen Zainal Alim, dalam The Power of Shalat Dhuha, mengungkapkan temuannya terhadap istilah dhuha di dalam Al-Qur’ an, yaitu Q.S. Al-A’rif [7]: 98; Thaha [20]: 59 dan 119; An-Nazi’at [79]: 29 dan 46; Asy-Syams [91]: 1; dan Adh-Dhuha [93]:1. Jika ketujuh ayat tersebut dikaji lebih dalam lagi maka akan kita dapatkan simpulan-simpulan yang mencengangkan.

 

Dalam Q.S. Al-A’rif [7]: 98, disebutkan, “Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” Pada ayat ini, kata dhuha (waktu matahari sepenggalahan naik) diasosiasikan antara lain dengan “saat  manusia bermain”.

 

Hal ini menegaskan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah “permainan” belaka sebagaimana firman Allah swt, “Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau,” (Q.S. Al-An’am [6J: 32). Memang benar, waktu dhuha adalah saat kebanyakan manusia dibuat sibuk dengan “permainan” kehidupan dunia.  Bahkan, istilah dhuha ini digunakan Allah sebagai kata sumpah-Nya tentang pertarungan antara kekuatan jahat dan baik pada tataran internal (batin) manusia yang benar-benar terjadi (Q.S. Asy-Syams [91]: 1, 10).

 

Hal ini menunjukkan bahwa dhuha adalah saat-saat kita harus berhati-hati dan wasp ada agar bisa memenangkan pertarungan dan terselamatkan dari ancaman kekuatan-kekuatan jahat, baik internal maupun eksternal, dari kelengahan dzikrullah dan seterusnya. Sungguh beruntunglah orang-orang yang kecenderungan jahat jiwanya terkalahkan oleh kecenderungan baik ruhnya dan sungguh rugilah orang-orang yang kecenderungan buruk jiwanya mengalahkan kecenderungan baik ruhnya.

 

Dalam kondusivitas dhuha yang demikian ini, anjuran untuk melaksanakan shalat sunnah Dhuha bisa dipandang sebagai pengawal proses dinamisasi gerak kehidupan pada waktu dhuha. Shalat Dhuha juga menjadi sarana memperkokoh kekuatan ruhani agar selalu dalam kendali norma dan nilai-nilai luhur Ilahi. Sebab, tanpa adanya kendali energi ruhaniah, boleh jadi vitalitas dan potensi besar manusia tersalurkan dengan cara-cara yang salah dan untuk tujuan-tujuan yang salah pula.

 

Waktu dhuha atau pagi hari memang menebarkan banyak sekali keberkahan. Bahkan, Rasulullah pernah berdoa, “Ya Allah, berkatilah umatku pada waktu pagi,” (H.R. Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Majah). Rasulullah juga bersabda, “Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barakah dan keberuntungan.” (H.R. 1habrani dan Al-Bazzar)

 

Subhanallah, waktu dhuha ternyata menyimpan berjuta keajaiban bagi proses perkembangan dan produktivitas kerja manusia. Sebagai penuntun proses perkembangan dan produktivitas tersebut, shalat Dhuha menjadi salah satu anjuran untuk dilaksanakan oleh kaum beriman. Dengan demikian, setiap pekerjaan yang dilakukannya benar-benar di bawah bimbingan dan arahan Allah swt; dibimbing untuk mendapatkan rezeki yang halal dan dengan cara yang halal pula. Juga dibimbing untuk senantiasa tawakal kepada-Nya dan tidak mudah putus asa ketika menghadapi hambatan dalam bekerja. Puncaknya, dengan bimbingan dan kasih sayang-Nya, kita pun akan dikaruniai rezeki yang melimpah dan penuh berkah. Amin.🙂

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semangat Pagi

Referensi :

Al-Qur’an Al-Karim

Tahajud & Dhuha

http://www.google.co.id