Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sebelum kita berbincang lebih jauh, ada baiknya kita memahami apa itu riya’. Kata riya’ boleh kita pertentangkan dengan ikhlas. Jika ikhlas dimaknai sebagai jernih, bersih, dan suci, yakni bertujuan semata-mata karena Allah Ta’ala maka riya’ adalah karakter kebalikannya. Yakni memamerkan amal dan melakukan suatu kebaikan karena ingin mendapatkan sanjungan, pujian, atau simpati dari selain Allah swt.

Ibnu Taimiyyah berkata, “Riya” (pamer) adalah pintu menyekutukan Allah dengan makhluk, sementara “ujub (berbangga diri) adalah pintu menyekutukan Allah dengan diri sendiri.” Pernyataan ini terdapat dalam kitab Al- ‘Ujb, karya Umar Ibnu MusaAl-Hafizh, yang dinukil dari Al-Fatawa 10/277. Sementara Syaikh Abdul Qadir Al-jailani berkata di dalam Al-Fathu Al-Rabbdni wa Al-Faidhu ArRahmani, “Orang pamer (riya) itu pakaiannya bersih, tetapi hatinya najis.”

 

Shalat Tahajud di masjid memang tidak ada larangan. Artinya, bila boleh melakukannya di sana ataupun di rumah. Yang patut diprihatinkan adalah apabila seluruh shaIat, baik fardhu maupun sunnah kita lakukan semuanya di masjid, sementara rumah atau tempat tinggal tidak pernah sekalipun digunakan untuk aktivitas ibadah. Padahal Nabi saw bersabda, “Laksanakanlah shalat sunnah di rumah kalian dan janganlah engkau jadikan rumah kalian seperti kuburan.” (H.R. Muslim dari Ibnu Umar)

Dari perspektif pendidikan, perintah Nabi ini memiliki implikasi positif untuk meneguhkan rohani keluarga, terutama anak. Ketika anak menyaksikan bahwa orangtuanya gemar melakukan shalat maka perilaku positif itu akan melekat kuat di dalam memorinya. Dengan begitu, ia akan tertarik untuk meniru apa yang dilakukan orangtuanya. Terakhir, ada satu pertanyaan penting yang mesti kita jawab, yaitu mana yang lebih utama bagi seorang hamba, apakah mendirikan shalat malam Ialu di pagi hari ia mengagumi dan membanggakan diri (‘ujub), ataukah lebih utama ia tidur Ialu di pagi hari ia menyesali kelalaiannya?

Pertanyaan ini dijawab oleh Ibnul Qayyim di dalam Tahdzib Madarij As-Salikin, (hIm. 120), “Engkau tidur di malam hari dan menyesal di pagi harinya adalah lebih baik daripada engkau shalat malam dan di pagi harinya engkau menjadi seorang yang ‘ujub. Sebab, seorang yang ‘ujub tidak akan pernah diterima amalnya. Engkau tertawa, tetapi engkau mengakui dosa, itu adalah lebih baik daripada engkau menangis untuk memamerkannya. Rintihan orang-orang yang berdosa sesungguhnya lebih disukai Allah daripada senandung para pengucap tasbih yang memamerkan.”

Wah, kalau begitu, mending kita tidak usah tahajud dong! Eit, jangan salah tafsir dulu. Itu sama halnya menyerah sebelum bertanding. Ibarat petinju, kita harus berani bertanding meski muka babak belur. Hari ini mungkin kalah, tetapi tidak menutup kemungkinan besok kita menang. Begitu pula dalam hal tahajud. Malam ini mungkin kita kurang khusyuk atau kurang ikhlas. Tetapi, bukan berarti kita lantas menyerah begitu saja tanpa pernah berusaha mengalahkannya menjadi lebih khusyuk dan ikhlas. Logikanya, bagaimana mungkin akan menjadi “Jawara Tahajud” dengan peringkat maqaman mahmudan jika kita tidak pernah menunaikannya? Karena itu, mulailah bangun malam sedari sekarang dan teruslah berusaha mencapai kekhusyukan serta keikhlasan, insya Allah dengan tekad yang kuat inilah kita akan mencapai peringkat yang dijanjikan Allah swt, yakni maqaman mahmudan (derajat yang terpuji).

 

Setelah berhasil mengalahkan segala bentuk penyakit hati, termasuk riya’ dan ‘ujub, Anda benar- benar akan merasakan nikmatnya tahajud. Jika telah berhasil pula mengistiqamahkannya , percayalah Anda pasti akan kecanduan untuk selamanya. Insya Allah.🙂

 Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 jagalah hati

Referensi :

Al-Qur’an Al-Karim

Tahajud & Dhuha

Tahdzib Madarij As-Salikin

http://www.Dakwatuna.com

http://www.google.co.id