Assalamualaikum wr.wb, kali ini saya akan membahas tentang monogami dan poligami serta dampaknya terhadap anak. Pengertian dari Monogami itu sendiri adalah kebalikan dari Poligami yaitu praktik pernikahan hanya dengan satu pasangan saja.pernikahan yang berlangsung antara dua individu yaitu laki-kali dan perempuan yang diambil dari bahasa Yunani yaitu Monos yang berarti satu dan juga Gamos berarti pernikahan. monogami memang terlihat lebih nyaman karena dengan satu pasangan terlihat adanya keharmonisan . Sehingga banyak masyarakat luas di dunia lebih memilih untuk pernikahan monogami dibandingkan dengan poligami.

Menurut Hukum Islam, Asas Monogami telah diletakkan oleh Islam sejak 15 abad yang lalu sebagai salah satu asas dalam Islam yang bertjuan untuk landasan dan modal dal utama guna membina kehidupan rumah tangga yang harmonic, sejahtera dan bahagia.
Islam memandang poligami lebih banyak membawa risiko madarat dari pada manfaatnya. Karena manusia itu menurut fitrahnya (human nature) mempunyai watak cemburu, iri hati, dan suka mengeluh. Watak-watak tersebut, akan mudah timbul dengan kadar tinggi, jika hidup dalam kehidupan keluarga yang poligamis. Dengan demikian, poligami itu bisa menjadi sumber konflik dalam kehidupan keluarga, balk konflik antara suami dengan istri-istri dan anak-anak dari istri-istrinya, maupun konflik antara istri beserta anak anaknya masing masing.
Karena itu, hukum asal dalam perkawinan menurut Islam adalah monogami, sebab dengan monogami akan mudah menetrahsasi sifat/watak cemburu, iri hati, dan suka mengeluh dalam kehidupan keluarga yang monogami. Berbeda dengan kehidupan keluarga yang poligamis, orang akan mudah peka dan terangsang timbulnya perasaan cemburu, iri hati/dengki, dan suka mengeluh dalam kadar tinggi, sehingga bisa mengganggu ketenangan keluarga dan dapat pula membahayakan keutuhan keluarga.
Karena itu, poligami hanya diperbolehkan, bila dalam keadaan darurat, misalnya istri ternyata mandul, sebab menurut Islam, anak itu merupakan salah satu dari tiga human investment yang sangat berguna bagi manusia setelah ia meninggal dunia, yakni bahwa amalnya tidak ak tertutup berkah dengan adanya keturunan yang saleh yang selalu berdoa untuknya. Maka dalam keadaannya yang istri mandul dan suami bukan mandul berdasarkan keterangan medic basil laboratoris suami diizinkan berpoligami dengan syaratia benar-benar mampu mencukupi nafkah untuk semua keluarga dan harus bersikap adil dalam pemberian nafkah lahir dan giliran waktu tinggalnya.
Menurut Ibnu Jarir, bahwa sesuai dengan nama surat ini Surat AI-Nisa, maka masalah pokoknva ialah mengingatkan kepada orang yang berpoligami agar berbuat adil terhadap istri-istrinya dan berusaha memperkecil jumlah istrinya agar ia tidak berbuat zalim terhadap keluarganya. Sedangkan menurut Aisyah r.a yang didukung oleh Muhammad Abduh, bahwa masalah pokoknya ialah masalah poligami, sebab masalah poligami dibicarakan dalam ayat ini adalah dalam kaitannya dengan masalah anak wanita yatim yang mau dikawini oleh walinya sendiri secara tidak adil atau tidak manusiawi.

Dalam Antropologi Sosial, Poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu suami atau istri (sesuai dengan jenis kelamin orang bersangkutan) sekaligus pada suatu saat (berlawanan dengan monogami, di mana seseorang memiliki hanya satu suami atau istri pada suatu saat).
Terdapat tiga bentuk poligami, yaitu poligini (seorang pria memiliki beberapa istri sekaligus), poliandri (seorang wanita memiliki beberapa suami sekaligus), dan pernikahan kelompok (bahasa Inggris: group marriage, yaitu kombinasi poligini dan poliandri). Ketiga bentuk poligami tersebut ditemukan dalam sejarah, namum poligini merupakan bentuk yang paling umum terjadi.
Walaupun diperbolehkan dalam beberapa kebudayaan, poligami ditentang oleh sebagian kalangan. Terutama kaum feminis menentang poligini, karena mereka menganggap poligini sebagai bentuk penindasan kepada kaum wanita.

Poligami saat ini tampaknya makin banyak dilakukan. Banyak pihak yang menentang tetapi banyak juga yang mendukung poligami karena dianggap tidak bertentangan dengan agama. Jika poligami dilakukan tanpa menghiraukan pendapat anak dan hal ini berdampak negatif pada proses tumbuh kembangnya Diantaranya ; Mempunyai rasa malu, mempunyai sifat pemberontak, tidak nurut apa kata orang tua (ayah), menanamkan rasa kebencian, membuat traumatik hingga anak berkeluarga.
Menurut pria yang akrab dipanggil kak Seto ini, perasaan marah, kecewa dan cemburu tersebut, bisa menumpuk dan akan menggangu emosi anak. Tidak hanya berdampak pada psikologisnya tetapi juga pada fisik dan prestasi akademiknya. Keceriaan anak pun akan berkurang bahkan menghilang akibat tumpukan emosi tersebut.
Menurut pengalaman Kak Seto, anak-anak yang ayahnya berpoligami cenderung tidak menerimanya dan melakukan reaksi penolakan. Hal ini juga berdampak pada hubungan anak dan ayah menjadi lebih renggang.
Selain dampak negatif, jika dilihat dari sisi positif, poligami bisa mengajarkan beberapa hal. “Anak akan menjadi belajar lebih tegar dalam menghadapi sebuah persoalan, ia juga bisa memiliki toleransi yang lebih tinggi dan jika diberikan pengertian dengan baik pikirannya bisa lebih menerima hal-hal yang dianggap sulit untuk diterima banyak orang,” tandas Kak Seto.

Demikian dari pembahasan kali ini, Saya selaku penulis mohon maaf bila ada kata–kata yang kurang berkenan di hati Anda toh saya hanya manusia biasa tak luput dari kesalahan, dan saya ucapakan Terima Kasih atas kujungannya. ^^

Wassalamualaikum Wr.wb.

Daftar pustaka :
http://id.wikipedia.org/wiki/Poligami
http://id.wikipedia.org/wiki/Monogami
http://digilib.sunan-ampel.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=hubptain-gdl-yenimulyat-7782
http://kosmo.vivanews.com/news/read/100439-inilah_dampak_poligami_pada_anak
http://s3s3p.wordpress.com/2010/01/26/monogami-poligami-dan-perceraian-menurut-hukum-islam/